Seeing is Believing
Saya ke Yogyakarta demi mencari sebuah jawaban,
kalau bukan pembenaran, atas semua kegelisahan dan kekhawatiran dalam
mendidik anak-anak (khususnya anak saya yang disleksia)
Pada kenyataannya, saya mendapat peneguhan. Bahwa tidak ada anak yang berkebutuhan khusus. Hanya ada anak yang BERPOTENSI khusus.
Bahwa menjadi seorang praktisi pendidikan adalah sebuah 'previlege'. Kita belajar melihat dunia yang berbeda melalui mata anak-anak. Kita belajar dari anak-anak, mengenal yang namanya 'keajaiban' melalui dunia mereka.
Kata-kata beliau membuat saya tersadar. Anak-anak, yang sejatinya lahir dari kesempurnaan, bukan sumber kekhawatiran - tidak berhak dipersalahkan atas ketidakmampuan kita mengobservasi dan menciptakan lingkungan yang membuatnya mau belajar.
Anak-anak adalah keajaiban itu sendiri. Merekalah sumber inspirasi. Dari mereka lah, kita belajar.
Saat anak kita tak mampu menerjemahkan bahasa verbal, saat itulah kita belajar lebih kreatif dalam berkomunikasi.
Saat anak kita tak paham matematika, saat itulah kita belajar menciptakan alat-alat kreatif yang bisa membuat Mat yang abstrak itu menjadi konkrit.
Saat anak kita marah dan frustrasi belajar, saat itulah kita belajar mendengar lebih banyak, mengerti lebih banyak , dan berdoa lebih banyak.
Pada akhirnya, anak-anak-lah yang mengajarkan kita arti menjadi bijaksana.
Anak-anak mengajarkan kita sebuah kesabaran.
Anak-anak yang mengajarkan kita tentang iman dan kepercayaan.
Anak-anak mengajarkan bahwa 'Seeing is Believing'
"Seeing is believing"
Artinya orangtua atau guru, yang pada saat diperhadapkan pada seorang anak yang sulit, memiliki keyakinan bahwa anak itu memiliki potensi. Bahwa ia bisa berkembang. Pada waktunya.
"Seeing is believing"
Artinya setiap kerja keras dan air mata, yang dicurahkan penuh cinta, akan mendapat ganjarannya dari Yang Mahakuasa. Karena anak itu dilahirkan, lengkap dengan kekurangan dan segala daya upayanya. Bahwa mereka dititipkan pada kita untuk mengajari kita artinya mencintai. Dan beriman. Yakin pada kekuatan Allah sebagai satu-satunya kuasa untuk mengubah. Dan menggubah.
"Seeing is believing"
Berarti hidup tanpa kekhawatiran. Bahwa kondisi anak kita hari ini, tak akan menjadi ramalan nasib masa depannya. Bahwa setiap tetesan keringat dan waktu yang kita sediakan untuk mendampingi, akan menggerakkan Sang Pengasih untuk mengulurkan tangan penolong-Nya.
"Seeing is believing."
Berarti kita yakin bahwa hidup anak-anak kita berada di tangan yang tepat, terlindungi oleh kasih yang maha, bahkan sebelum kita sempat menyebut nama mereka.
"Seeing is believing"
Berarti syukur dalam kerendahan hati. Dan keinginan untuk terus belajar.
Pada kenyataannya, saya mendapat peneguhan. Bahwa tidak ada anak yang berkebutuhan khusus. Hanya ada anak yang BERPOTENSI khusus.
Bahwa menjadi seorang praktisi pendidikan adalah sebuah 'previlege'. Kita belajar melihat dunia yang berbeda melalui mata anak-anak. Kita belajar dari anak-anak, mengenal yang namanya 'keajaiban' melalui dunia mereka.
"And when the miracle come to you, what are you going to do?"-Paul Epstein-
Kata-kata beliau membuat saya tersadar. Anak-anak, yang sejatinya lahir dari kesempurnaan, bukan sumber kekhawatiran - tidak berhak dipersalahkan atas ketidakmampuan kita mengobservasi dan menciptakan lingkungan yang membuatnya mau belajar.
Anak-anak adalah keajaiban itu sendiri. Merekalah sumber inspirasi. Dari mereka lah, kita belajar.
Saat anak kita tak mampu menerjemahkan bahasa verbal, saat itulah kita belajar lebih kreatif dalam berkomunikasi.
Saat anak kita tak paham matematika, saat itulah kita belajar menciptakan alat-alat kreatif yang bisa membuat Mat yang abstrak itu menjadi konkrit.
Saat anak kita marah dan frustrasi belajar, saat itulah kita belajar mendengar lebih banyak, mengerti lebih banyak , dan berdoa lebih banyak.
Pada akhirnya, anak-anak-lah yang mengajarkan kita arti menjadi bijaksana.
Anak-anak mengajarkan kita sebuah kesabaran.
Anak-anak yang mengajarkan kita tentang iman dan kepercayaan.
Anak-anak mengajarkan bahwa 'Seeing is Believing'
"Seeing is believing"
Artinya orangtua atau guru, yang pada saat diperhadapkan pada seorang anak yang sulit, memiliki keyakinan bahwa anak itu memiliki potensi. Bahwa ia bisa berkembang. Pada waktunya.
"Seeing is believing"
Artinya setiap kerja keras dan air mata, yang dicurahkan penuh cinta, akan mendapat ganjarannya dari Yang Mahakuasa. Karena anak itu dilahirkan, lengkap dengan kekurangan dan segala daya upayanya. Bahwa mereka dititipkan pada kita untuk mengajari kita artinya mencintai. Dan beriman. Yakin pada kekuatan Allah sebagai satu-satunya kuasa untuk mengubah. Dan menggubah.
"Seeing is believing"
Berarti hidup tanpa kekhawatiran. Bahwa kondisi anak kita hari ini, tak akan menjadi ramalan nasib masa depannya. Bahwa setiap tetesan keringat dan waktu yang kita sediakan untuk mendampingi, akan menggerakkan Sang Pengasih untuk mengulurkan tangan penolong-Nya.
"Seeing is believing."
Berarti kita yakin bahwa hidup anak-anak kita berada di tangan yang tepat, terlindungi oleh kasih yang maha, bahkan sebelum kita sempat menyebut nama mereka.
"Seeing is believing"
Berarti syukur dalam kerendahan hati. Dan keinginan untuk terus belajar.

Komentar
Posting Komentar