Mengatasi Kesulitan Matematika dengan Multi-Sensori
Matematika seringkali menjadi objek
pelajaran yang paling sulit dan juga menakutkan bagi sebagian anak. Hal itu disebabkan
oleh sifatnya yang abstrak hingga sulit untuk dijabarkan. Selain itu,
pengerjaannya haruslah tepat (precise),
jelas (clear), dan akurat (exact). Saking sulitnya matematika bagi kebanyakan orang, bahkan Albert Einstein, penemu teori
relativitas yang juga dianggap sebagai ilmuwan terbesar pada abad ke-20, mengatakan,
“Do not worry about your difficulties in
mathematics! I can assure you, mine are still greater.”
Bagi sebagian anak, kesulitan memahami Matematika ditambah dengan kekurangmampuan membayangkan segala sesuatu yang abstrak. Sebagian anak tidak bisa membedakan dalam pemikirannya, bahwa puluhan adalah lebih besar nilainya daripada satuan, atau ribuan lebih besar nilainya daripada ratusan. Jika dilanjutkan pada tingkat berikutnya, anak-anak seperti ini akan makin kesulitan jika diminta berhitung, apalagi pada konsep meminjam dan menukar. Pada umumnya orangtua akan menganggap bahwa anak-anak ini ceroboh, padahal pada kenyataannya mereka memang kurang menguasai sistem desimal matematika. Anak-anak seperti ini yang biasanya digolongkan sebagai Mathematics Specific Learning Difficulties, atau biasa juga disebut diskalkulia (seperti anakku 😊)
Berbeda dengan pandangan umum, Maria
Montessori beranggapan bahwa pada hakekatnya setiap anak menunjukkan
ketertarikan pada Matematika.
“Children display a universal love of mathematics, which is par excellence the science of precision, order, and intelligence,” kata Maria Montessori.
Beragam alat yang diciptakan secara signifikan bisa membantu anak-anak dengan kesulitan belajar Matematika. Hal ini sejalan dengan seorang ahli bidang Mathematics Specific Learning Difficulties, Steve Chinn yang berpendapat, "The multisensory introduction is used to encourage flexible cognitive processes and to provide an overview." Berdasarkan pengetahuan tersebut, maka untuk membantu anak kami yang diskalkulia, kami melakukan beberapa hal berikut :
- melakukan pengajaran Matematika dimulai dari mudah ke sulit
- multi-sensory approach
- setiap kemajuan diukur untuk kemudian dievaluasi
- latihan 3 kali lebih banyak daripada anak pada umumnya
Matematika harus dimulai dari mudah ke sulit. Mengapa?
Karena buat sebagian anak dengan Math SpLD, tantangan terbesar justru diri mereka sendiri. Mereka merasa dirinya bodoh dan tidak mampu menyelesaikan apa pun. Pengalaman gagal mereka lebih banyak daripada perasaan berhasil. Karenanya, sangat penting untuk memperkenalkan rasanya 'berhasil' dalam hati anak-anak. Dan soal yang mudah, bisa menjadi pintu masuk bagi mereka untuk mulai belajar.
Multi-sensory Approach
Anak-anak dengan kesulitan belajar Matematika akan sangat terbantu jika mereka bisa melihat, meraba, atau merasakan maksud dari pengajaran secara verbal. Misalnya, jika kita ingin mengajarkan konsep jam, maka yang bisa kita lakukan adalah menggunakan jam dengan dua warna. Anak-anak dengan kesulitan belajar matematika tidak bisa membedakan konsep 'panjang' dan 'pendek'. Pada jam yang biasa, kedua jarum terlihat sama sehingga sulit dibedakan mana 'panjang' mana 'pendek'. Tapi dengan adanya pendekatan multi sensori seperti ini, anak bisa memahami lebih jelas bagaimana cara membaca jam.
Setiap kemajuan diukur, lalu dievaluasi.
Sebagai orangtua seringkali kita lupa untuk benar-benar meng-observasi kemampuan dan kelemahan anak-anak. Nilai seringkali menjadi tolok ukur, dan sayangnya standar yang digunakan berbeda untuk setiap sekolah. Dalam hal ini ada baiknya kita membuat Individual Lesson Plan sendiri untuk diterapkan pada anak-anak. Kita lihat kemajuannya sejauh apa, demikian juga kekurangannya. Jika dalam jangka waktu tertentu anak tidak mengalami kemajuan, evaluasi apa yang salah. Bisa jadi pendekatannya kurang cocok, atau waktu ia berlatih kurang.
Latihan 3 kali lebih banyak dibandingkan anak biasa.
Mungkin terdengar kejam, tapi hal tersebut adalah rumusan yang dikeluarkan oleh para ahli kesulitan belajar spesifik. Tapi jangan khawatir! Berdasarkan pengalaman kami, anak-anak akan menikmati proses belajar sepanjang memenuhi unsur-unsur tadi : mudah ke sulit, dan multi-sensori.
Pada intinya setiap anak memiliki hak yang sama untuk belajar. Hanya terkadang, cara mereka yang berbeda. Dan menjadi lebih bijaksana kalau kita mau belajar untuk paham pada cara mereka belajar dan berpikir. Matematika memang bukan satu-satunya bidang studi penentu keberhasilan, tapi tak bisa dipungkiri kehidupan kita -berhasil atau tidaknya - dipengaruhi Matematika. Bidang studi ini mengajarkan kita untuk meng-estimasi, menganalisis, berpikir sistematis, cerdas mengelola uang, dan masih banyak lagi.
Semua keterampilan tersebut penting dipelajari oleh anak-anak. Setiap kesulitan belajar matematika jangan dijadikan alasan untuk berhenti belajar, melainkan harus mendorong kita untuk semakin tekun mencari jalan keluar permasalahan. Semoga beberapa langkah di atas bisa berguna dalam proses pembelajaran.


Komentar
Posting Komentar