Lingkungan Montessori dan Perkembangan Bahasa



“Pembelajaran bahasa merupakan pencapaian intelektual anak yang paling berharga,” kata Elizabeth G. Hainstock (Teaching Montessori in The Home : 1997).

Madina, seorang anak dari Rusia, ditemukan pada tahun 2013 - telanjang, berjalan dengan kaki-tangan, dan mengonggong. Saat itu usianya 3 tahun. Ayah Madina pergi sesaat sesudah kelahirannya. Ibunya, perempuan berusia 23 tahun, kecanduan berat alkohol. Ia kerap terlalu mabuk untuk merawat anaknya dan duduk saja di meja untuk makan sementara anaknya mengunyah tulang di lantai bersama para anjing. Madina dibawa ke perawatan dan dokter menemukan ia sehat secara mental dan fisik meskipun kesulitan bicara hingga hari ini.

“The only language men ever speak perfectly is the one they learn in babyhood, when no one can teach them anything,” kata Maria Montessori.


Montessori percaya bahwa pembelajaran bahasa pada anak sudah dimulai pada usia 0 tahun. Absorbent mind memungkinkan anak menyerap setiap bunyi, kata, kalimat yang disampaikan lingkungannya. Proses tersebut berlanjut terus hingga usia 2 tahun saat anak bisa menggunakan kalimat secara sadar. Hilangnya masa-masa sensitif  mengakibatkan seorang anak kesulitan berbahasa, seperti yang dialami Madina.

“The most important period of life is not the age of university studies, but the first one, the period from birth to the age of six. For that is the time when man’s intelligence itself, his greatest emplement is being formed,” kata Maria Montessori. 

Montessory percaya bahwa pembelajaran bahasa pada anak bahkan sudah harus dimulai pada saat usia 2 tahun. Pada masa ini anak-anak mengalami masa sensitif dalam hal panca indera. Mereka membutuhkan beragam kegiatan yang bisa memperkuat otot-otot tangannya agar bisa menulis dengan baik. Beragam aktivitas sensorial dan practical life dalam lingkungan Montessori bisa melatih motor skill juga mengembangkan sequences serta kemandirian mereka. 

Pada usia 3 s.d. 6 tahun, anak semakin siap untuk ‘belajar’. Pada usia 3 hingga 4 tahun  terjadi ‘ledakan’ menulis huruf dan angka. Dengan demikian  pengetahuan harus diberikan dalam bentuk aktivitas fisik dan mental; serta harus mencakup  3 komponen utama : fonetik sebagai fondasi, visualisasi konkrit menjadi bahasa abstrak, dan reading for meaning.

Tak cukup hanya sebatas aktivitas, Montessori mensyaratkan lingkungan yang memungkinkan setiap anak berkembang. Beauty and simplicity menjadi hal prinsip. Berkaitan dengan bahasa, kelas Montessori diatur agar bisa membangun semangat belajar dan keingintahuan. Mempelajari bahasa tak lagi menghapal seperti dalam sekolah pada umumnya. Montessori memberikan kesempatan pada anak untuk mencapai kemajuan penting secara bertahap. Material disusun berdasarkan tingkat kesulitan – semua menanamkan impresi dan dibangun dengan pemahaman konkrit ke abstrak. Dalam memahami sebuah kata, anak diajak untuk mengenali bendanya terlebih dahulu secara konkrit sebelum bisa membaca makna-makna abstrak. Para guru Montessori mengambil peranan utama. Mereka yang memiliki kepercayaan bahwa setiap anak pasti berkembang, akan terus menyemangati anak didiknya agar senang belajar, menanamkan kepercayaan diri, dan menerangkan dengan hati-hati. Para guru dengan gembira bernyanyi,membacakan puisi, mengajak anak memainkan I Spy Game – semua aktivitas kaya makna yang bisa mendorong perkembangan bahasa.   

Lingkungan Montessori tidak mendesak anak agar segera mahir membaca dan menulis. Lingkungan Montessori menunggu hingga anak siap melakukannya. Kuncinya, berbagai pengalaman berbahasa yang berbeda diperlukan untuk membangun dan memperkaya dasar anak untuk bisa membaca dan menulis.

“People think that Montessori is not structured. But what we have is prepared environment, where the child finds structure within the environment”
 -Priya Sumitra-

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengatasi Kesulitan Matematika dengan Multi-Sensori

Anak Belajar buat Apa?

Hal Tersulit Jadi Ibu