Cosmic Education (untuk Cinta dan Peradaban)
Apakah Bapak/Ibu ikut mengamati video yang jadi viral akhir-akhir ini?
Sekelompok anak menyerukan, "Bunuh!" pada seseorang, secara terbuka dan
lantang?
https://www.youtube.com/watch?v=uKOtCCqHZv8
Pada tahun 1935 Maria Montessori mengatakan bahwa dalam pendidikan hari ini, karakter tidaklah masuk hitungan untuk dikembangkan secara serius. Tujuan beliau untuk mempengaruhi dunia agar peduli pada pembangunan menyeluruh anak-anak, pada keseimbangan perkembangan fisik dan mental, mungkin masih harus dipertanyakan keberhasilannya, bahkan hingga 65 tahun setelah kematiannya.
Merujuk pada potret yang tertuang dalam video viral di atas, menjadi nyata bahwa pola pendidikan yang hanya menekankan pada pengetahuan, urutan, memori, ujian, dan peringkat telah gagal. Meningkatkan kecerdasan anak, membentuk ilmuwan pemula dan ahli matematika, memberi keunggulan akademis; tak akan berguna kecuali jika anak-anak itu juga mampu berkomitmen, menghargai, peduli, dan belajar mencintai.
Inilah inti dari cosmic education.
TAHAP PERTAMA dalam cosmic education adalah membawakan dunia pada anak-anak. Melalui setiap bunyi, rasa, warna, dan bentuk - semua keterbatasan material, anak belajar tentang keragaman dunia yang tidak terbatas. Anak-anak berabstraksi serta berimajinasi, Hal ini karena kecenderungan dasar setiap manusia (juga anak-anak) untuk bereksplorasi, mengikuti aturan, merepetisi hingga sempurna, memuaskan keingintahuan, terus berlanjut pada tahap cosmic education berikutnya.
TAHAP KEDUA, anak-anak akan diperkenalkan pada pemikiran bahwa dirinya adalah bagian dari sebuah sistem – makhluk hidup maupun benda mati. Bahwa setiap elemen yang ada di lingkungan memiliki peran. Bahwa tumbuhan adalah penyedia udara dan bahan pangan, bahwa hewan liar menjaga keseimbangan, bahwa air menyuburkan, bahwa matahari adalah sumber energi terbesar, bahwa daratan yang kita tempati bukanlah satu-satunya – semua itu dipelajari.
Lagi-lagi, melalui material yang terbatas, anak dihantar pada sebuah pemahaman yang tak terbatas tentang artinya menjadi sebuah bagian sistem kehidupan. Berjalan-jalan ke kebun binatang, atau ikut hiking dan camping, bukan sekadar hanya untuk tahu. Lebih dari itu, mengajak anak MERASAKAN dirinya adalah bagian dari lingkungan, tempat dirinya bergantung.
Dengan demikian setiap anak akan mulai bertanya,
“Siapa saya?” ,
“Apa tugas yang diberikan sang Pencipta pada saya?” , “Apakah kehidupan hanya untuk dilalui begitu saja, ataukah ada sesuatu yang lebih mulia yang bisa kita lakukan?”
Pada TAHAP KETIGA, anak harus sadar bahwa alam ciptaan disediakan untuk manusia. Puluhan abad berlalu, dan manusia belajar untuk terus memenuhi kebutuhannya. Tujuan penciptaan tidak pernah sama tanpa kehadiran manusia, sang aktor utama. Manusia menyempurnakan keterbatasan alam dalam memenuhi kebutuhan; manusia berinovasi dan menciptakan teknologi. Manusia berbagi peran dengan orang lain. Manusia berabstraksi; menciptakan rumah seperti burung yang membangun sarang atau memanfaatkan tanduk hewan sebagai senjata pertahanan diri. Melalui imajinasi mereka menciptakan sesuatu yang tak pernah ada sebelumnya.
Manusia, dengan kecerdasan intelektualnya, menciptakan sebuah warisan. Bahasa dijadikan alat untuk menyampaikan keberadaannya. Matematika adalah bahasa lain dari sebuah konsistensi dan kepastian, yang terukur selama ribuan tahun. Seni, adalah bahasa lain bagi manusia untuk menyampaikan keindahan dan harmoni.
Semuanya disempurnakan, oleh sebuah cinta yang tertanam, yang menjadikan manusia AGEN PERADABAN, sang pembaharu kehidupan.
Inilah makna cosmic education.
PENTING! Dan MENDESAK untuk SEGERA diajarkan.
.
Disadur dari tulisan Margareth Stephenson (Cosmic Education : 1957)
https://www.youtube.com/watch?v=uKOtCCqHZv8
“The child is both a hope and a promise for mankind. What is needed is faith in the grandeur and superiority of man,”Maria Montessori (Education and Peace : 1949)
Pada tahun 1935 Maria Montessori mengatakan bahwa dalam pendidikan hari ini, karakter tidaklah masuk hitungan untuk dikembangkan secara serius. Tujuan beliau untuk mempengaruhi dunia agar peduli pada pembangunan menyeluruh anak-anak, pada keseimbangan perkembangan fisik dan mental, mungkin masih harus dipertanyakan keberhasilannya, bahkan hingga 65 tahun setelah kematiannya.
Merujuk pada potret yang tertuang dalam video viral di atas, menjadi nyata bahwa pola pendidikan yang hanya menekankan pada pengetahuan, urutan, memori, ujian, dan peringkat telah gagal. Meningkatkan kecerdasan anak, membentuk ilmuwan pemula dan ahli matematika, memberi keunggulan akademis; tak akan berguna kecuali jika anak-anak itu juga mampu berkomitmen, menghargai, peduli, dan belajar mencintai.
Inilah inti dari cosmic education.
TAHAP PERTAMA dalam cosmic education adalah membawakan dunia pada anak-anak. Melalui setiap bunyi, rasa, warna, dan bentuk - semua keterbatasan material, anak belajar tentang keragaman dunia yang tidak terbatas. Anak-anak berabstraksi serta berimajinasi, Hal ini karena kecenderungan dasar setiap manusia (juga anak-anak) untuk bereksplorasi, mengikuti aturan, merepetisi hingga sempurna, memuaskan keingintahuan, terus berlanjut pada tahap cosmic education berikutnya.
TAHAP KEDUA, anak-anak akan diperkenalkan pada pemikiran bahwa dirinya adalah bagian dari sebuah sistem – makhluk hidup maupun benda mati. Bahwa setiap elemen yang ada di lingkungan memiliki peran. Bahwa tumbuhan adalah penyedia udara dan bahan pangan, bahwa hewan liar menjaga keseimbangan, bahwa air menyuburkan, bahwa matahari adalah sumber energi terbesar, bahwa daratan yang kita tempati bukanlah satu-satunya – semua itu dipelajari.
Lagi-lagi, melalui material yang terbatas, anak dihantar pada sebuah pemahaman yang tak terbatas tentang artinya menjadi sebuah bagian sistem kehidupan. Berjalan-jalan ke kebun binatang, atau ikut hiking dan camping, bukan sekadar hanya untuk tahu. Lebih dari itu, mengajak anak MERASAKAN dirinya adalah bagian dari lingkungan, tempat dirinya bergantung.
Dengan demikian setiap anak akan mulai bertanya,
“Siapa saya?” ,
“Apa tugas yang diberikan sang Pencipta pada saya?” , “Apakah kehidupan hanya untuk dilalui begitu saja, ataukah ada sesuatu yang lebih mulia yang bisa kita lakukan?”
Pada TAHAP KETIGA, anak harus sadar bahwa alam ciptaan disediakan untuk manusia. Puluhan abad berlalu, dan manusia belajar untuk terus memenuhi kebutuhannya. Tujuan penciptaan tidak pernah sama tanpa kehadiran manusia, sang aktor utama. Manusia menyempurnakan keterbatasan alam dalam memenuhi kebutuhan; manusia berinovasi dan menciptakan teknologi. Manusia berbagi peran dengan orang lain. Manusia berabstraksi; menciptakan rumah seperti burung yang membangun sarang atau memanfaatkan tanduk hewan sebagai senjata pertahanan diri. Melalui imajinasi mereka menciptakan sesuatu yang tak pernah ada sebelumnya.
Manusia, dengan kecerdasan intelektualnya, menciptakan sebuah warisan. Bahasa dijadikan alat untuk menyampaikan keberadaannya. Matematika adalah bahasa lain dari sebuah konsistensi dan kepastian, yang terukur selama ribuan tahun. Seni, adalah bahasa lain bagi manusia untuk menyampaikan keindahan dan harmoni.
Semuanya disempurnakan, oleh sebuah cinta yang tertanam, yang menjadikan manusia AGEN PERADABAN, sang pembaharu kehidupan.
Inilah makna cosmic education.
PENTING! Dan MENDESAK untuk SEGERA diajarkan.
.
Disadur dari tulisan Margareth Stephenson (Cosmic Education : 1957)
Komentar
Posting Komentar