Anak Belajar buat Apa?



“Bisa tolong jelaskan, jalan mana yang harus kuambil dari sini?”
“Tergantung kamu maunya ke mana,” jawab si Kucing.
“Ke mana juga boleh,” kata Alice.
“Ya…, kalau begitu, jalan manapun boleh kamu ambil,” kata si Kucing.
            Dari Alice’s Adventures in Wonderland
           
            Bayangkan jika Anda diminta untuk menyelesaikan sebuah jigsaw puzzle.  Karena sudah pernah menyelesaikan banyak puzzle sebelumnya, Anda pun dengan percaya diri melakukannya. Anda mengeluarkan ke-1000 potongan gambar tersebut di atas sebuah meja besar. Lalu Anda mencari gambarnya di kotak. Ternyata tidak ada gambar apapun! Kosong! Mana bisa Anda menyelesaikan puzzle tersebut kalau tidak tahu gambar apa yang harus dibuat?  Kalau saja Anda sempat melihat sekilas gambarnya, pasti hasilnya akan berbeda. Tanpa gambaran yang jelas, Anda tidak akan tahu harus memulai dari mana.
            Sekarang perhatikan anak-anak Anda serta 1000 potongan hidup mereka! Anak-anak kita beraktivitas dari pagi hingga sore, bahkan malam hari, apakah tahu yang ingin dicapai mereka? Apakah Anda atau anak Anda sempat membicarakannya?

Upaya terus-menerus tapi tanpa tujuan, tidak akan berdampak apa-apa.

            Seorang ibu mengeluhkan anaknya yang beranjak remaja. Sepanjang hari pekerjaan anaknya hanya bermain game. Anak itu hampir 15 tahun, tidak mempunyai teman ataupun kegiatan lain. Mudah mengeluh dan marah. Apapun yang diucapkan sang Ibu, sia-sia. Tetap saja dia bergeming dengan dunianya sendiri.
           
Banyak orang tua yang menyalahkan game sebagai pusat kemalasan sang anak, tanpa sadar bahwa sebenarnya kita telah menjadikan game sebagai tujuan anak-anak sejak mereka balita. Perhatikan apa yang dilakukan orangtua saat membawa anaknya ke pertemuan bisnis ataupun acara kumpul keluarga! Anak akan dilengkapi dengan gadget agar tidak rewel. Sementara Ayah dan Ibu menghabiskan berjam-jam waktu untuk mengobrol, anak juga akan asyik sendiri dengan mainan mereka. Kalau anak berubah bosan dan ribut, dengan mudah dicarikan tontonan youtube yang baru.

“Usia 0 sampai 12 tahun menjadi dasar perilaku bagi perkembangan anak selanjutnya. Apa yang ditabur pada usia-usia tersebut akan dituai pada saat anak remaja. Karena itu usia 0 sampai 12 tahun adalah saat paling tepat untuk menanamkan nilai-nilai dalam diri seorang anak.”        

Sandy Triyasa, S.Th dan Yoanita, M.Psi. mengungkapkan hal tersebut dalam banyak kesempatan diskusi.  

“Banyak orang tua yang bilang anaknya bermasalah, justru pada saat mereka sudah remaja. Sudah lebih sulit diperbaiki! Karena pada saat berusia 13 tahun, anak-anak akan lebih mendengarkan lingkungannya ketimbang orang tuanya. Justru seharusnya pada saat mereka di rentang usia 0 sampai 12 tahun, kita inject hal-hal positif pada mereka. Katakanlah misalnya tentang pergaulan pria dan wanita. ‘Kan anak-anak suka tanya dari mana mereka lahir. Pertanyaan-pertanyaan seperti itu adalah moment berharga untuk menjalin komunikasi. Kita jawab secara ilmiah, lalu kita inject nilai-nilai positif mengenai pergaulan. Kalau mereka nggak bertanya, bisa saja kita yang cerita. Kita share pengalaman kita semasa muda ataupun pengalaman orang lain yang memberikan inspirasi. Melalui storytelling, anak-anak akan tergugah untuk bertanya lebih lanjut. Saat itulah…, INJECT dengan yang positif!”

Seringkali anak nggak bertindak karena memang tidak mengetahui gambaran besarnya, tidak mengerti puzzle yang dipersiapkan orang tuanya. Kalau memang berharap anak menempuh pendidikan setinggi-tingginya dengan jalur beasiswa, jelaskan pada anak keuntungan melakukannya. Kalau berharap anak bisa berprestasi dalam memainkan piano, bicarakan mengapa hal itu penting. Kalau ingin anak melanjutkan usaha atau bisnis keluarga, perkenalkan mereka sejak dini dengan culture perusahaan, visi apa yang ingin dicapai, serta cara bergaul dengan sesama rekan bisnis. Tawarkan mimpi pada mereka. Ajak mereka terlibat dalam mimpi yang sama.


Motivator pertama dan utama anak-anak adalah orang tua mereka


Bantu anak-anak kita untuk mempunyai mimpi yang besar! Ajak mereka menuliskan rencana aksi dan goal apa yang ingin dicapai! KKM tidaklah cukup! Tantangan selalu dibutuhkan untuk menggerakkan potensi.  





Anda dapat membaca ulasan lengkap mengenai hal ini di buku The Rising Star terbitan   PT. Elex Media

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengatasi Kesulitan Matematika dengan Multi-Sensori

Hal Tersulit Jadi Ibu