Hal Tersulit Jadi Ibu

Seminggu yang lalu saya ketemu seorang 'mamud' di daerah Bekasi. Dia sudah baca buku 'The Rising Star' dan minta ketemu. Dokter muda yang cantik, dengan anak 4 tahunnya yang luar biasa cerdas.

Awal ketemu, langsung ada perasaan lega. Ng-klop seperti menemukan sekutu.

Ternyata, menurut saya pribadi (karenanya bisa saja salah) ada dua bentuk 'cinta' yang dominan dimiliki para Ibu.

Cinta yang pertama adalah dengan mencemaskan segala sesuatu.
Banyak Ibu khawatir dengan pendidikan anaknya, karena nilainya nggak naik-naik dan harus setengah mati belajar supaya mencapai KKM. Banyak Ibu, yang sejak anaknya kecil, takut mereka bakal 'jatuh' kalau naik ke tempat tinggi. Beberapa Ibu lain 'khawatir' anaknya di-bully di sekolah. Sebagian Ibu lain khawatir anaknya diculik. Ada juga yang khawatir anaknya terjerumus sama pergaulan yang salah, jatuh cinta sama orang yang salah, pilih sekolah yang salah, jurusan kuliahnya salah, punya karir yang salah, juga khawatir dengan salah-salah lainnya. Bahkan sejak anak-anak itu dalam kandungan, kita telah khawatir anak-anak itu menjadi sebuah kesalahan : dilahirkan dengan kondisi yang salah, atau mungkin pada waktu yang salah.

Karenanya semua upaya dilakukan untuk jangan sampai salah. Hampir sepanjang hari cemas apakah kita sudah melakukan kesalahan. Sebagian menghindar dan lari dalam kesibukan. Kecemasan dianggap wajar. Panik melihat pertumbuhan anak adalah normal. Karena memang tak ada sekolah khusus jadi Ibu, kan? *semua orang bilang begitu*


Bentuk cinta yang lain adalah 'percaya'.
Banyak juga Ibu yang sejak awal percaya bahwa anaknya berbakat. Bahwa mereka jenius. Bahwa mereka hebat dan cerdas. Bahwa anak-anak itu adalah berkat Tuhan, yang karenanya juga adalah sumber berkat. Sebagian Ibu memandang anaknya malah tanpa salah. Semua perbedaan, biarlah dunia yang salah. Bukan si anak yang harus berubah. Semua kekurangan, berjalan begitu saja, dengan dalih nanti semuanya menyesuaikan. Si anak tumbuh dalam percaya, yang menolak disebut pembiaran. Alasannya, karena sang Ibu percaya sang anak bisa.


Saya sudah pernah mengalami keduanya. Cemas tak kunjung henti, ataupun percaya tak pakai 'tapi'. Keduanya bikin frustrasi.
Ingat tentang anak saya yang disleksia? Usia 2 s.d. 5 tahun adalah saat-saat di mana saya paling cemas : anak belum bisa bicara, terlihat bodoh, dan nggak berkembang dibanding teman sebayanya. Saya cemas, lebih pada kecemasan karena dianggap gagal sebagai orangtua. Saya panik, lebih karena takut dicap tak mampu mendidik.

Masih karena disleksia, ketika anak itu berusia 5 s.d. 8 tahun, adalah masa-masa saya penuh percaya. "Ah..., nanti juga anak bisa sendiri," adalah kata-kata sakti yang selalu terucap. "Biarkan saja dia main sampai puas. Toh si Dedy C juga nggak bisa matematika nggak papa." Saya lupa, bahwa waktu, seperti juga usia, tak bisa berjalan mundur. Apa yang tidak saya tanam hari ini, tak bisa saya tuai di hari yang akan datang.


#demiAnakku #sayaBelajar adalah sesuatu yang sungguh-sungguh saya lakukan. Dan apa yang membuat saya berubah? Saat saya menyadari, anak saya tak lagi bahagia. Ada kesendirian yang merenggut kegembiraannya, juga menjauhkan kami sedemikian rupa.


Saya tahu bahwa saya harus berubah. Nggak bisa pakai cara yang sama kalau ingin dapat hasil berbeda. Saya berdoa dan Tuhan yang tunjukkan cara-Nya. Saya bertemu banyak orang dan belajar buat mendengar. Pada akhirnya pemahaman saya saat ini sebagai seorang Ibu adalah :
- cemas dan percaya dalam satu takaran
- mengukur dan mencatat setiap perkembangan
- berorientasi pada proses dan bukan hasilnya
- membuka perluasan sekutu dan wawasan, menolak bodoh sebagai pilihan
- mengijinkan Ayah terlibat lebih banyak, sambil terus menumbuhkan cinta dan pengertian
- fokus untuk mengurangi kekurangan, dan melebihkan kelebihan
Dan yang terpenting, melakukannya dengan syukur dan sukacita.

Kasih sayang orangtua hanya tersedia dalam satu jalur, semuanya bersumber dari Sang Maha Cinta. Tak bisa berbalik apalagi kembali. Tak ada hitungan untung ataupun rugi. Bukan pencitraan dan upaya cari sensasi. Semuanya hanya saya lakukan demi satu tujuan : mengembalikan senyuman anak-anak.

Dan yang jelas.... #demiAnakku #sayaAkanTerusBelajar

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengatasi Kesulitan Matematika dengan Multi-Sensori

Anak Belajar buat Apa?