Pendidikan yang Adil bagi Semua Anak


Setiap orangtua menginginkan anaknya cerdas dan mandiri. Tapi bagaimana jika yang terjadi malah sebaliknya?
Seorang anak laki-laki menunduk tanpa daya. Di hadapannya, sang Ibu mengatainya malas dan bodoh. Pasalnya sudah hampir lima jam sang Ibu meminta anaknya menghapal tulisan  ‘ma’, ‘mi’, ‘mu’ , ‘me’ , dan ‘mo’.  Tak satu pun dari suku kata tersebut yang bisa diingatnya. Membentak dan mencubit tak membuat anak itu bertambah semangat untuk belajar. Bagaikan mesin mobil yang tiba-tiba mogok, demikian juga anak itu bergeming – dengan tatapan kosong dan pasrah siap kena hukuman.
Our care of the children should be governed not by the desire to ‘make them learn things’ but by the endeavor always to keep burning within them the light which is called intelligence.’
-Maria Montessori-
Pada rentang tahun 1899-1901 Maria Montessori memulai pekerjaannya di sebuah sekolah yang menangani anak-anak dengan keterbelakangan mental. Montessori mengobservasi, melakukan analisa, dan mengembangkan material untuk membantu mereka. Upaya ini berhasil. Anak-anak yang dianggap bodoh  bisa lulus ujian nasional, sama seperti anak normal pada umumnya.  Hal ini menimbulkan keingintahuan lebih besar dalam diri Montessori – mengenai dunia pendidikan dan anak-anak, mengenai praktik apa yang salah, mengenai metode dan tujuan lebih besar yang ingin dicapai. Beliau melanjutkan pendidikannya dalam bidang psikologi dan akhirnya membuka Casa dei Bambini pada tahun 1907. Perjalanan karier Montessori menjadi sebuah pengalaman spiritual dalam menemukan rahasia kehidupan  yang tergambar dalam diri setiap anak. Hal itu mengubah bukan hanya prinsip Montessori mengenai pendidikan, melainkan cara pandangnya akan kehidupan itu sendiri.
Pengalaman Montessori menjadi sebuah inspirasi, petunjuk sekaligus jalan keluar bagi permasalahan yang saya alami. Anak yang saya sebut sebelumnya  bernama Devotio Alvin. Anak laki-laki yang pada usia 7 tahun dinyatakan disleksia, yang oleh para dokter dinyatakan ‘terlambat’ untuk ditolong. Anak yang selama tujuh tahun pertama kehidupannya menderita karena persepsi yang keliru dan pola belajar yang tidak tepat, juga sangat mungkin menderita seumur hidupnya jika saya tidak melakukan apapun.
“Every children is a miracle. The question is what will you do if that miracle come to you?”   Kalimat tersebut diucapkan Paul Epstein sebagai penutup kuliah umum  dalam The 4th International Montessori Conference : The Montessori Method pada tanggal 18-19 Maret 2017. Kalimat yang sangat sederhana namun memberikan pengaruh pada diri saya, bahkan hingga saat ini.


Keajaiban seperti yang diungkapkan Paul Epstein nyata dalam sensitive periods dan absorbent mind. Anak-anak usia 0-3 tahun mampu menyerap seluruh informasi yang ada di lingkungan dan menyimpannya dalam subconscious mind. Usia 3-6 tahun anak-anak belajar melalui tangan mereka, bekerja dalam suatu tujuan mengeksplorasi lingkungan secara lebih utuh. Keseluruhan impresi tersebut disimpannya dalam subconscious mind, yang sewaktu-waktu bisa ‘dipanggil’ kembali, dilatih menjadi sebuah konsep, yang pada akhirnya memunculkan sebuah ‘kecerdasan’.  Setiap anak memiliki sensitive periods, yang mana memungkinkan kecerdasan mereka berkembang maksimal jika mendapatkan pendampingan yang tepat. Merujuk pada pemahaman tersebut, mustahil jika ada anak yang bodoh. Hal ini sejalan dengan ungkapan Howard Gardner, seorang psikolog sekaligus pencetus gagasan mengenai multiple intelligence.

"The biggest mistake of past centuries in teaching has been to treat all students as if they were variants of the same individual and thus to feel justified in teaching them all the same subjects the same way."

-Howard Gardner-

       Pola potensi anak sebagaimana diungkapkan Montessori mencakup kesenangan tiap anak untuk bekerja (law of work) dan kebebasan mereka untuk memilih pekerjaan apa yang bisa dilakukan  (law of independence). Kedua hal tersebut, ditambah dengan konsentrasi (power of attention) akan memunculkan motivasi (development of will). Selanjutnya apa yang disebut sebagai kecerdasan (development of intelligence), kreativitas (develompent of creativity and imagination), kecerdasan emosi (development of emotional and spiritual life) akan tercapai. Hal tersebut akan terus berkembang sesuai usia dan membentuk setiap individu menjadi seorang pribadi yang utuh (stages of growth).
       Pola potensi yang ada membutuhkan lingkungan yang tepat (prepared environment), kebebasan (freedom within limit), dan role model agar dapat berkembang sebagaimana mestinya. Semua hal tersebut tidaklah ditemukan di sekolah-sekolah konvensional yang lebih banyak memberikan instuksi abstrak ketimbang impresi konkrit, yang memastikan tiap anak patuh ketimbang kreatif  bereksplorasi. Sekolah konvensional menjadikan guru sebagai pusat pendidikan. Kecerdasan dipandang sebagai apa yang tercantum di atas kertas. Bodoh dan cerdas dibedakan dalam kecepatan berkompetisi, mengenai siapa yang lebih unggul. Disiplin diterapkan dalam bentuk hukuman dan pujian, mendorong anak-anak menjadi ‘pelanggar aturan’ saat tak ada yang mengawasi.
          Bagi anak-anak seperti Devotio, hal tersebut bahkan lebih buruk. Anak-anak disleksia memiliki keterlambatan dalam berbahasa, memiliki kepercayaan diri yang rendah karena seringkali gagal, menjadikan mereka cepat marah akibat diperlakukan ‘berbeda’. Tidak ada prepared environment yang memiliki keteraturan. Tidak ada material yang membantunya paham lebih baik tentang Matematika dan bahasa. Tidak ada kebebasan dalam menemukan cara termudah baginya dalam belajar. Tidak ada suasana positif yang bisa memotivasi dirinya agar lebih baik. Apa yang dialami Devotio, dialami juga oleh anak-anak di kawasan kumuh Italia sebelum Montessori mendirikan Casa dei Bambini.
     Mengenal metode Montessori tidaklah sebatas mempelajari material yang tepat dalam menumbuhkan kecerdasan. Mempelajari metode Montessori membawa saya pada sebuah pemahaman tentang bagaimana menjadi orangtua yang lebih baik, menjadi guru yang lebih sabar. Saya belajar untuk mengobservasi anak-anak secara lebih teliti, tertarik dengan apapun yang membuat mereka tertarik. Saya belajar dari anak-anak mengenai bagaimana cara mereka memandang bahwa segala sesuatunya indah, belajar menimba kedamaian dari hati mereka. Saya belajar untuk menjadi pribadi yang lebih utuh, sebagaimana yang kita harapkan juga dari mereka.
Lebih jauh lagi, Montessori memberikan pemahaman baru bahwa sesungguhnya pendidikan haruslah adil bagi setiap anak. Adil berarti anak-anak ditempatkan dalam lingkungan yang melindungi kepentingan mereka, yang tidak menyalahkan apalagi memberikan hukuman. Adil berarti ketersediaan material dengan tingkat kesulitan yang tepat,  yang bisa membuat anak berpikir tentang benar dan salah. Adil berarti menjadi guru yang selalu belajar dari anak-anak, yang terus memperbaharui diri, yang dengan rendah hati mengakui bahwa anak-anak adalah keajaiban yang diciptakan Tuhan bagi dunia. Adil berarti memiliki keyakinan bahwa setiap anak, tak terbatas pada normal atau berkebutuhan khusus, pasti memiliki potensi. Bahwa setiap anak adalah cerdas. Bahwa setiap anak, siapapun dia dan bagaimanapun kondisinya, sangat berhak untuk dicintai.
Saya ingin mengakhiri tulisan ini dengan mengutip kata-kata Maria Montessori yang bagi saya sangat indah:
“The teacher... must have a kind of faith”
Faith, iman, keyakinan, ‘mestakung’, ‘the secret’ – dengan nama apapun kita menyebutnya adalah yang menggerakkan harapan. Dialah yang memurnikan impian. Dialah yang menyempurnakan kasih sayang. Montessori meyakininya. Dan saya pun demikian.

















Daftar Pustaka

Montessori, Maria, The Secret of Childhood, Ballantine Books, New York : 1966
Montessori, Maria, The Absorbent Mind (Pikiran Yang Mudah Menyerap), Pustaka Pelajar, Yogyakarta : 2008
Gardner, Howard. 2003. Kecerdasan Majemuk. (Terjemahan Drs. Alexander Sindoro). Batam Centre: Interaksara
http://www.montessori.org/parents-information#22396

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengatasi Kesulitan Matematika dengan Multi-Sensori

Anak Belajar buat Apa?

Hal Tersulit Jadi Ibu